Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar


Allahu akbar Wa li-Llahi l-hamd

Sariful.Com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H, Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Bekerja dengan dua Komputer, Kenapa Tidak ?

Pusing juga yach bekerja dengan 2 komputer, terkadang mau mengerakan mouse yang komputer pertama eh… malah nya di pegang mouse komputer ke dua, kadang juga ketika akan ngetik di keyboard komputer pertama, juga salah ketik dengan menggunakan komputer ke dua.. Bekerja dengan dua Komputer, Kenapa Tidak ? tapi asik juga…2Komputer

sejak kebakaran tanggal 29 Januari yang lalu, aq mulai bekerja extra dengan membuat berbagai keperluan untuk perusahaan, mulai dari pengadaan komputer ketika habis kebakaran, istalasi, pasang jaringan, ngurusin server, buat program, sampe bikin brosur. karena semua telah habis terbakar. semua itu aq lakukan sendiri, karena kebetulan aq adalah IT seorang diri di PT. Jaly Indonesia Utama. tapi semua itu aq lakukan dengan hati, karena aq bekerja dengan hati :) I love my Jobs and I love my Company.

Bekerja di sebuah Perusahaan sebesar PT. Jaly Indonesia Utama sebagai IT adalah suatu tantangan tersendiri, dimana jika aq berhasil memecahkan masalah atau menyelesaikan tugas yang diberikan, ada kepuasan tersendiri yang aq dapat. apalai jika itu berhubungan dengan ilmu yang baru yang belum pernah aq dapatkan dan berhasil aq pecahkan secara autodidak dengan bertanya pada mbah google..,  pada intinya sich jika kita bisa menggunakan internet dengan positif, maka kita akan mendapatkan hasil yang positif.

Sebagai IT, aq juga adalah manusia biasa yang ingin menjaga diri dari hal-hal yang tidak di inginkan, misalnya kaki ketiban stabilizer or tang crimping tools.. maka aq menggunakan Safety Shoes untuk keamanan Kaki. Aq memilih Safety Shoes sporty agar bisa di gunakan dimana saja, bisa buat olah raga juga bisa buat kerja… asik khan..Safetyshoes_kent_type_8114Alhamdulillah Sudah hampir 2 tahun di gunakan masih awet-awet saja… jadi bagi rekan-rekan yang belum menggunakan Safety Shoes, jangan ragu untuk menggunakan safetyshoes untuk keselamatan kerja anda, terutama Safety Shoes Merk KENT hehehehe promo mode on.

Kembali ke laptop….

Bekerja dengan dua komputer membuat mejaku terasa sempit, oleh karenanya aq menggunakan sebuah switch VGA sehingga dengan menggunakan 1 monitor bisa untuk dua CPU. jadi kalau aq mau mengunakan server, aq tinggal pindahkan switch nya ke posisi A dan keyboard serta mousenya aq siapkan, jadi tidak akan tertukar lagi..

Semoga jika gedung kami sudah selesai di bangun, aq dapat menempati ruangan sendiri sehingga bisa menempatkan komputer dengan leluasa.

Ada yang punya pengalaman lain dengan menggunakan komputer ?

Popularity: 1% [?]

Redenominasi or Sanering ?

Wacana soal redenominasi atau penyederhanaan nilai nominal rupiah mengingatkan kembali pada peristiwa sanering atau pemotongan nilai riil uang rupiah (sanering) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Kecemasan sempat merebak gara-gara redenominasi dianggap seperti halnya sanering yang menimbulkan kekacauan di masyarakat lantaran duit mereka tiba-tiba tidak ada harganya.

“Nasabah bank dan investor asing sempat panik karena semula dipikir Bank Indonesia akan melakukan sanering,” kata Ketua Umum Himpunan Bank-Bank Umum Nasional Swasta (Perbanas) Sigit Pramono kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 5 Agustus 2010.

Mereka panik, kata dia, karena trauma peristiwa 50 tahun lalu. “Orang-orang tua kita tentu masih ingat betapa kepanikan muncul karena tiba-tiba kekayaannya menurun akibat kabijakan sanering,” kata dia.

Jika mengacu kembali pada masa pemerintah Soekarno, kebijakan sanering dilakukan pada 25 Agustus 1959. Tujuannya, untuk mengendalikan inflasi yang demikian tinggi. Caranya, pada saat itu, nilai uang pecahan Rp500 dan Rp 1.000 dipotong menjadi Rp50 dan Rp100.

Bahkan, bukan cuma sanering yang dilakukan. Namun, pemerintah juga serta membekukan simpanan giro dan deposito sebesar 90% dari jumlah di atas Rp25.000 yang akan diganti menjadi simpanan jangka panjang.

Pada 1958-1959, Indonesia memang tengah menghadapi persoalan inflasi yang tinggi. Bayangkan, pada tahun itu, dengan jumlah uang beredar Rp29.372 juta inflasi sudah mencapai 46 persen. Pada 1959, jumlah uang beredar melonjak Rp5.517 juta menjadi Rp34.889 juta. Jumlah uang beredar pada 5 dekade lalu memang tidak seperti sekarang yang mencapai ratusan triliun rupiah.

Secara eksternal, hal tersebut disebabkan oleh resesi di negara-negara industri yang mengakibatkan turunnya permintaan harga bahan mentah sehingga pendapatan hasil ekspor merosot. Secara internal, kondisi ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh ketegangan politik dalam negeri yang memuncak pada kurun waktu 1957-1958.

Indonesia juga terlibat dalam konfrontasi dengan Belanda berkaitan dengan masalah Irian Barat sehingga membutuhkan biaya besar. Selain itu, bank-bank juga memberikan kredit dalam jumlah besar kepada perusahaan dan yayasan pemerintah sebesar Rp5.257 juta, termasuk tambahan kredit kepada perusahaan asing yang dinasionalisasi. Akibatnya, jumlah uang beredar melonjak sangat tajam.

Ironisnya, lonjakan uang beredar besar-besaran tidak diimbangi dengan persediaan barang, baik produksi dalam negeri maupun impor. Akibatnya harga barang-barang dan biaya hidup melonjak tajam. Jika pada 1958, laju inflasi 46 persen, maka pada 1959 inflasi juga tinggi mencapai 22 persen. Pada 1960, inflasi juga tembus 36 persen. Itu tentu berbeda dengan kondisi sekarang, setelah lima tahun dimana inflasi rata-rata di kisaran 5-6 persen per tahun.

Buntut dari berbagai kebijakan ini, bukannya menyelesaikan masalah, tetapi malah memperburuk situasi. Bank-bank mengalami kesulitan likuiditas, yang ditanggapi oleh Bank Indonesia (BI) melalui pemberian kredit likuiditas kepada bank-bank. BI juga menangguhkan kebijakan pembatasan kredit.

Kesulitan likuiditas membuat bank-bank tidak bisa memberikan kredit kepada perusahaan untuk kegiatan ekspor, impor, produksi, dan distribusi. Akibatnya, berpengaruh pada kenaikan harga barang dan biaya hidup tahun 1959. Bahkan, inflasi terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya hingga mencapai puncaknya pada 1966 dengan inflasi sebesar 635,5 persen.

Tindakan ini dianggap gagal ini, ternyata dilakukan pemerintah tanpa berkoordinasi dengan BI. Akibatnya, Gubernur BI pada waktu itu, Mr. Loekman Hakim, mengajukan pengunduran diri pada presiden Soekarno.

Source Article

Popularity: 1% [?]

@Copyright Make Money From Internet, All Rights Reserved
Designed by: Cara Buat Web
Programmer : Safety Shoes : Make Money